ke-NU an
1.
Pengertian
Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdalatul ulama (NU) adalah jam’iyah yang didirikan oleh para kiai
pengasuh pesantren. Tujuan didirikannya NU ini diantaranya adalah memelihara
,melestarikan , mengembangkan dan mengamalkan ajaran ahlussunnah wal jama’ah
yang menganut pola pola madzhab empat maliki, hanafi, syafi’i dan hambali.
Mempersatukan langkah para ulama’ dan para
pengikutnya –pengikutnya serta melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk
menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan
martabat manusia
NU didirikan notebebe oleh para ulama yang tergabung dalam komite hijaz. Para
ulama sepakat mendirikan organisasi beserta namanya yang diserahkan amanat
peresmiannya kepada KH Hasyim Asy’ari. Setelah ber istikharah dan buahnya
beliau mendapat kepercayaan dar gurunya, yakni KH Muhammad Kholil Bangkalan
madura untuk mendirikan jamiyah Nadlatul Ulama.
Yang sesuai dengan islam ala ahlus sunnah wal al-jamaah.
Islam ahlus sunnah al-jamaah adalah ajaran
sebagaimana diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist :
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلّيٰ الله عَلَيْهِ وَسلَّمْ : وَالذِّي نَفْسِيْ مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقُ اُمَّتِيْ عَليٰ ثَلَثٍ وَسبْعِيْنَ فِرْقَةً
فَوَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ
قِيْلَ : مَنْ هُمْ يَارَسُوْلَ اللهِ ، قَالَ : اَهْلُ
السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ( رواه
الطبرَني )
Artinya
: Rosululloh saw bersabda : demi Tuhan yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh
umatku nanti akan pecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk surga dan yang
72 golongan akan masuk neraka, seorang sahabat bertanya “ siapakah mereka yang
masuk surga itu, ya Rosulalloh ? “ Rosul menjawab “ Mereka itu adalah Ahlus
Sunnah wal Jama’ah “ ( H. R. Imam Thobroni ).
Jadi islam ahlus sunnah wal al-jamaah
adalah ajaran (wahyu Allah SWT) disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-
sahabat-Nya dan beliau amalakan serta di amalkan sahabat.
Memanag ada yang menilai hadist tersebut
mengandung kelemahan. Tapi bila dijadikan pegangan dan pedoman untuk mengukur
pandangan dan perilaku yang dapat di benarkan ajaran islam pasti lebih baik
dibanding keterangan para pakar yang belum pasti lebih kekuatan dan
kebenarannya.
Paham ahlus sunnah al-jamaah dalam nahdlatul
Ulama mencakup aspek aqidah, syari’ahdan ahlak. Ketiganya , merupakn satu
kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan islam. Didasarkan
pada manhaj (pola pemikiran)
asy’ariyah dan maturiduyah dalam bidang
aqidah, empat madzhab besar dalam bidang fikih (hanafi,maliki,syafi’i dan
hambali) dan dalam bidang tasawuf menganut manhaj imam al ghozali dan imam abu al-qosim al-junaidi al-baghdadi,serta
para imam lain yang sejalan dengan ,syari’ah islam .
Ciri utama aswaja NU adalah sikap tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah dan atau keseimbanagan). Yakni selalu
seimbang dalam menggunakn dalil, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara
pendapat jabariyah dan qodnariyah dan sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam maslah fiqih sikap pertengahan antara “ijtihat” dan taqlid
buta. Yaitu dengan cara bermadzab. Ciri sikap ini adalah tegas dalam hal-hal
yang qath’iyyah dan toleran dan
hal-hal zhanniyyat.
Tawassuth
dalam
menyikapi budaya ialah mempertahankan budaya lama yang masih baik dan menerima
budaya baru yang lebih baik. Dengan sikap ini aswaja NU tidak apriori menolak
atau menerima salah satu dari keduanya.
Dalam masalah akhlak, menggunakan
perpaduan antara syaja’ah (berani)
dan ngawur. Penggunaan sikap tawadhu’ yang merupakan perpaduan takabbur dan
tadzallul. Rendah hati merupakan sikap terpuji sedangkan rendah diri harus dihindari
karena tercela.
2.
Latar
Belakang Berdirinya NU
Nahdlatul Ulama’, disingkat NU,
artinya kebangkitan ulama’. Sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama’
pada tanggal 31 Januari 1926/ 26 Rajab 1344 H di Surabaya.Latar belakang
berdirinya NU berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan
politik dunia Islam kala itu. Pada tahun 1924, Syarif Husein, Raja Hijaz
(Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang
beraliran Wahabi. Tersebarlah berita penguasa baru itu akan melarang semua
bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni, yang sudah berjalan berpuluh-puluh
tahun di Tanah Arab, dan akan menggantinya dengan model Wahabi. Pengamalan
agama dengan dengan system bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, maulid Nabi dan
lain sebagainya, akan segera dilarang.
Tidak hanya itu, Raja Ibnu Saud juga
ingin melebarkan pengaruh kekuasaannya ke seluruh dunia Islam. Dengan dalih
demi kejayaan Islam, ia berencana meneruskan kekhilafan Islam yang terputus di
Turki pasca runtuhnya daulah Utsmaniyyah. Untuk itu dia berencana menggelar
Muktamar Khilafah di Kota Suci Makkah, sebagai penerua Khilafah yang terputus
itu.
Seluruh negara Islam di dunia akan
diundang untuk menghadiri muktamar tersebut, termasuk Indonesia. Awalnya,
utusan yang direkomendasikan adalah HOS Cokroaminoto (SI), KH. Mas Mansur
(Muhammadiyah) dan KH. Abdul Wahab Chasbullah (pesantren). Namun, rupanya ada
permainan licik diantara kelompok yang mengusung para calon utusan Indonesia.
Dengan alas an Kiai Wahab tidak mewakili organisasi resmi, maka namanya dicoret
dari daftar calon utusan.
Peristiwa itu menyadarkan para
ulama’ pengasuh pesantren akan pentingnya sebuah organisasi. Sekaligus
menyisahkan sakit hati yang mendalam, karena tidak ada lagi yang bisa dititipi
sikap keberatan akan rencana Raja Ibnu Saud yang akan mengubah model beragama
di Makkah. Para ulama’ pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan raja yang
anti kebebasan bermadzhab, anti mauled Nabi, anti ziarah makam dan lain
sebagainya. Bahkan santer terdengar berita makam Nabi Muhammad SAW pun
berencana digusur.
Bagi para kyai pesantren, pembaruan
adalah suatu keharusan. KH. Hasyim Asy’ari juga tidak mempersoalkan dan bisa
menerima gagasan para kaum modernis untuk menghimbau umat Islam kembali pada
ajaran Islam murni. Namun Kyai Hasyim tidak bisa menerima pemikiran mereka yang
meminta umat Islam melepaskan diri dari system bermadzhab.
Disamping itu, karena ide pembaruan
dilakukan dengan cara melecehkan, merendahkan dan membodoh-bodohkan, maka para
ulama’ pesantren menolaknya. Bagi mereka, pembaruan tetap dibutuhkan, namun
tidak dengan meninggalkan khazanah keilmuan yang sudah ada dan masih relevan.
Karena latar belakang yang mendesak itulah akhirnya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’
didirikan.
Pendiri resminya adalah Hadratus
Syeikh KH. M. Hasyim Asyari, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa
Timur. Sedangkan yang bertindak sebagai arsitek dan motor penggerak adalah KH.
Abdul Wahab Chasbullah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas,
Jombang. Kiai Wahab adalah salah seorang murid utama Kiai Hasyim. Ia lincah,
energik dan banyak akal.
Susunan pengurus PBNU yang pertama
(1926) :
Syuriah:
Rais Akbar : KH. M. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Wakil rais Akbar : KH. Dahlan Ahyad, Kebondalem (Surabaya)
Katib Awal : KH. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang)
Katib Tsani : KH. Abdul Chalim (Cirebon)
A’wan : KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
: KH. Ridwan Abdullah (Surabaya)
: KH. Said (Surabaya)
: KH. Bisri Syansuri (Jombang)
: KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)
: KH. Nahrowi (Malang)
: KH. Amin (Surabaya)
: KH. Masykuri (Lasem)
: KH. Nahrowi (Surabaya)
Mustasyar : KH. R. Asnawi (Kudus)
: KH. Ridwan (Semarang)
: KH. Mas Nawawi, Sidogiri (Pasuruan)
: KH. Doro Muntoho (Bangkalan)
: Syeikh Ahmad Ghonaim al-Misri (Mesir)
: KH. R. Hambali (Kudus)
Wakil rais Akbar : KH. Dahlan Ahyad, Kebondalem (Surabaya)
Katib Awal : KH. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang)
Katib Tsani : KH. Abdul Chalim (Cirebon)
A’wan : KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
: KH. Ridwan Abdullah (Surabaya)
: KH. Said (Surabaya)
: KH. Bisri Syansuri (Jombang)
: KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)
: KH. Nahrowi (Malang)
: KH. Amin (Surabaya)
: KH. Masykuri (Lasem)
: KH. Nahrowi (Surabaya)
Mustasyar : KH. R. Asnawi (Kudus)
: KH. Ridwan (Semarang)
: KH. Mas Nawawi, Sidogiri (Pasuruan)
: KH. Doro Muntoho (Bangkalan)
: Syeikh Ahmad Ghonaim al-Misri (Mesir)
: KH. R. Hambali (Kudus)
Tanfidziyyah:
Ketua : H. Hasan Gipo (Surabaya)
Penulis : M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo (Pemalang)
Bendahara : H. Burhan (Gresik)
Pembantu : H. Soleh Sjamil (Surabaya)
: H. Ichsan (Surabaya)
: H. Dja’far Alwan (Surabaya)
: H. Utsman (Surabaya)
: H. Ahzab (Surabaya)
: H. Nawawi (Surabaya)
: H. Dachlan (Surabaya)
: H. Mangun (Surabaya)
Penulis : M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo (Pemalang)
Bendahara : H. Burhan (Gresik)
Pembantu : H. Soleh Sjamil (Surabaya)
: H. Ichsan (Surabaya)
: H. Dja’far Alwan (Surabaya)
: H. Utsman (Surabaya)
: H. Ahzab (Surabaya)
: H. Nawawi (Surabaya)
: H. Dachlan (Surabaya)
: H. Mangun (Surabaya)
Organisasi Nahdltul Ulama’ didirikan
dengan tujuan untuk melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam
Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan menganut salah satu dari empat madzhab (Hanafi,
Maliki, Syafi’I dan Hambali).
Bahkan dalam Anggaran Dasar yang
pertama (1927) dinyatakan bahwa organisasi tersebut bertujuan untuk memperkuat
kesetiaan kaum muslimin pada salah satu madzhab empat.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan
kala itu antara lain :
1.
Memperkuatpersatuan ulama’ yang masih setia kepada madzhab.
2. Memberikkan
bimbingan tentang jenis-jenis kitab yang diajarkan pada lembaga-lembaga
pendidikan Islam.
3.
Penyebaran ajaran Islam yang sesuai dengan tuntunan madzhab empat.
4.
Memperluas jumlah madrasah dan memperbaiki organisasinya.
5.
Membantu pembangunan masjid-masjid, langgar dan pondok pesantren.
6.
Membantu anak-anak yatim piatu dan fakir miskin.
Dalam pasal 3 Statuten Perkumpulan
NU (1933) disebutkan:
“Mengadakan perhubungan diantara
ulama’-ulama’ yang bermadzhab, memeriksa kitab-kitab apakah itu dari kitab
Ahlussunnah Waljama’ah atau kitab-kiitab ahli bid’ah, menyiarkan agama Islam
dengan cara apa saja yang halal; berikhtiar memperbanyak madrasah, masjid,
surau dan pondok pesantren, begitu juga dengan hal ikhwalnya anak yatim dan
orang-orang fakir miskin, serta mendirikan baddan-badan untuk memajukan urusan
pertanian, perniagaan, yang tidak dilarang oleh syara’ agama Islam”.
Dan inilah perjalan NU mulai tahun
1926 hingga sekarang.
1) 1926 – 1942
Berdiri di Surabaya atas nama perkumpulan para ulama’. Pada masa ini
perjuangan dititik-beratkan pada penguatan paham Ahlussunnah Waljama’ah
terhadap serangan penganut ajaran Wahabi. Diantara program kerjanya adalah
menyeleksi kitab-kitab yang sesuai/tidak sesuai ajaran Ahlussunnah Waljama’ah.
Di samping melakukan penguatan persatuan diantara para kyai dan pengasuh
pesantren.
Pada tahun 1937, empat orang tokoh pergerakan Islam berkumpul di Surabaya
untuk mendirikan federasi organisasi Islamm. Mereka adalah KH. Abdul Wahab
Chasbullah dan KH. Dahhlan Ahyad (keduuanya dari NU), KH. Mas Mansur
(Muhammadiyah) dan Wondoamiseno (Sarekat Islam). Pertemuan menyepakati
berdirinya Majlis Islam A’la Indonesia, disingkat MIAI.
Selain KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Dahlan Ahyad yang tercatat
sebagai salah seorang pendiri MIAI, dalam perjalanan selanjutnya KH. A. Wachid
Hasyim terpilih sebagai Ketua Dewan MIAI – jabatan tertinggi yang ada dalam
organisasi itu. Ketika putera Hadratus Syeikh KH. M Hasyim Asy’ari itu
mengundurkan diri, posisinya digantikan oleh KH. M. Dahlan, yang juga tokoh
NU.Selain mereka, terdapat juga nama KH. Zainul Arifin, yang menjabat Ketua
Komisi Pemberantas Penghinaan Islam dan KH. Machfudz Siddiq dalam Komisi Luar
Negeri MIAI. Peranan para tokoh NU sangat dominan dalam menentukan perjalanan
MIAI.
Namun ketika Jepang datang (Maret 1942), semua organisasii social
kemasyarakatan dan organisasi politik di Indonesia dibekukan. Termasuk NU dan
MIAI. Bahkan Rais Akbar NU KH. M. Hasyim Asy’ari dan Ketua Umum PBNU KH.
Machfudz Siddiq ditahan oleh Jepang.
2) 1942 –
1945
Ketika ormas-ormas dibekukan oleh Dai Nippon, perjuangan para kiai NU
difokuskan melalui jalur diplomasi. Tahun 1942, K.H. A.Wachid Hasyim dan
beberapa kiai masuk sebagai anggota Chuo Sangi-In(parleman Jepang).
Lewat parlemen itu pula KH. A. Wachid Hasyim meminta agar pemerintahan
balatentara Jepang mengijinkan NU dan Muhammadiyah diaktifkan kembali. Pada
bulan September 1943, pemerintaan itu baru dikabulkan. NU dan Muhammadiyah bisa
beraktivitas kembali seperti di masa penjajahan Belanda.
Perjuangan diplomasi terus ditingkatkan. Pada akhir Oktober 1943, atas
prakarsa NU dan Muhammadiyah pula,didirikan wadah perjuangan baru bagi umat
Islam bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia, disingkat Masyumi, dengan KH.
A. Wachid Hasyim Asy’ari sebagaian pimpinan tertinggi. Sedangkan K.H.A.Wachid
Hasyim duduk sebagai wakilnya. Masyumi adalah kelanjutan dari MIA yang
dibubarkan oleh balatentara Jepang.
Ketika pemerintahan balatentara Jepang meminta para pemuda Islam Indonesia
bergabung menjadi prajurit pembantu tentara Jepang(Heiho), KH. A. Wachid Hasyim
atas nama pemimpin Masyumi, justru meminta agar jepang melatih kemiliteran
pemuda Islam secara khusus dan terpisah. Pada 14 Oktober 1944, permintaan itu
dikabulkan dengan dibentuknya Hizbullah. Mereka dilatih kemiliteran oleh para
komandan PETA dengan pengawasan prajurit Jepang. Bertindak sebagai Panglima
Tertinggi Hizbullah adalah KH. Zainul Arifin dari NU.
Sejak itu pesantren-pesantren berubah menjadi markas pelatihan Hizbullah.
Para santri menjadi prajurit dan para Gus (putra kiai) menjadi komandannya.
Sedangkan para kiai sebagai penasehat spiritual sekaligus penentu kebijakannya.
Sementara di bidang politik, selain aktif dalam pucuk pimpinan masyumi, KH.
A. Wahid Hasyim juga duduk sebagai Pimpinan Tertinggi Shumubu (Departemen
Agama), menggantikan KH. M. hasyim Asy’ari yang berhalangan untuk berkantor di
Jakarta.
3) 1945 –
1952
Ketika Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
dibentuk pada 29 April 1945, KH. A. Wahid Hasyim duduk sebagai salah satu
anggotanya. Begitu juga dengan KH. A. Wahab Chasbullah, KH. Masjkur dan KH.
Zainul Arifin. KH. A. Wahid Hasyim bergabung sebagai anggota Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ia juga tercatat sebagai salah seorang perumus
dasar Negara dan turut serta sebagai penanda tangan Piagam Jakarta, bersama
delapan orang lainnya.
Disaat belanda datang lagi dengan membonceng tentara sekutu sambil
mengultimatum agar pejuang Indonesia menyerah, NU mengeluarkan Fatwa Jihad pada
22 Oktober 1945. Fatwa yang dikenal dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama’ itu
mampu membakar semangat perjuangan kaum muslimin. Mereka tidak gentar menghadapi
kematian karena perang tersebut dihukumi Perang Sabil (perang agama).
Setelah Indonesia merdeka, banyak tokoh NU menduduki jabatan penting dalam
pemerintahan.
a.
Dalam Kabinet Presidensil (2 September 1945), KH. A. Wahid Hasyim duduk sebagai
Menteri Negara.
b.
Dalam Kabinet Syahrir III (2 Oktober 1946), KH. Fathur Rahman Kafrawi duduk
sebagai Menteri Agama dan KH. A. Wahid Hasyim sebagai salah seorang Menteri
Negara.
c.
Dalam Kabinet Amir Syarifuddin II (1947), KH. Masjkur sebagai Menteri Agama.
d.
Dalam Kabinet Hatta I, Kabinet Hatta II dan Kabinet Susanto (1948-1949), KH.
Masjkur Sebagai menteri Agama.
e.
Dalam Kabinet RIS (20 Desember 1949 – 3 April 1952), KH. A. Wahid Hasyim
Sebagai Menteri Agama.
Sementara dalam dunia kemiliteran,
sejak tahun 1947 seluruh lasykar dibubarkan pemerintah, digabung menjadi satu
dalam wadah Tentara Nasional Imdonesia(TNI).banyak tokoh NU yang telah lama
aktif dalam Hizbullah bergabung ke dalam TNI.mereka turut memper kuat barisan
angkatan perang yang baru lahir itu
4) 1952 -
1973
Lewat Muktamar NU ke-19 di Palembang pada 1952, NU menjadi partai politik
sendiri, setelah sekian lama bergabung dalam Masyumi kekuatan NU yang
sebelumnya tidak diperhitungkan, ternyata muncul kekuatan yang sangat besar.
Dalam pemilu pertama 1955, partai NU menduduki peringkat ketiga setelah PNI dan
Masyumi
Banyak tokoh NU menduduki posisi penting dalam pemerintahan,
a.
DalamKabinet Ali Sastroamijoyo I, KH. Zainul Arifin sebagai Wakil Perdana
Menteri, KH. Masjkur sebagai Menteri Agama dan Muhammad Hanafiah sebagai
Menteri Agraria.
b.
Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap, Sunaryo, SH menjadi Menteri Dalam Negeri dan
KH. M. Ilyas sebagai Menteri Agama.
c.
Dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo II, Dr. KH. Idham Chalid sebagai Wakil Perdana
Menteri, Sunaryo, SH sebagai Menteri Dalam Negeri, Mr Burhanuddin sebagai
Menteri Perekonomian, Kh. Fattah yasin sebagai Menteri Sosial dan KH. Ilyas
sebagai menteri Agama.
d.
Dalam Kabinet Karya, Dr. KH. Idham Chalid sebagai Wakil Perdana Menteri, Prof.
Drs. Sunarjo sebagai menteri Perekonomian yang kemudian digantikan oleh Drs.
Rahmat Mulyomiseno, KH. M. Ilyas sebagai Menteri Agama dan Sunaryo, Sh sebagai
Menteri Agraria.
e.
Dalam Kabinet Kerja, KH. A. Wahib Wahab sebagai Menteri Agama kemudian
digantikan oleh KH. Saifuddin Zuhri, KH. Fattah Yasin sebagai Menteri
Penghubung Alim Ulama’ dan H. M. Hasan sebagai Menteri PPP.
f.
Dalam Kabinet Dwikora, Dr. KH. Idham Chalid sebagai Menko Kesra, KH. Saifuddin
Zuhri sebagai Menteri Agama, KH. Fattah Yasin sebagai Menteri Penghubung Alim
Ulama’ yan kemudian digantikan oleh KH. M. Ilyas dan H. Aminuddin Aziz sebagai
Menteri Negara.
g.
Dalam Kabinet Ampera, Dr. KH. Idham Chalid sebagai Menko Kesra dan KH. Saifuddin
Zuhri sebagai Menteri Agama.
h.
Dalam Kabinet Pembangunan I, KH. M. Dahlan sebagai Menteri Agama dan Dr. KH.
Idham Chalid sebagai Menko Kesra.
Selain berkiprah dalam pemerintahan, pada masa ini banyak juga tokoh NU
yang menduduki posisi pimpiman dalam Lembaga Tertinggi dan Lembaga Tinggi
Negara. Mereka adalah:
a)
KH.Zainul Arifin, menjadi Ketua DPR-GR (1962 – 1963).
b)
HM.Subchan ZE, Wakil Ketua MPRS (1966 - 1971).
c) KH.
A. Syaichu, Ketua DPR-GR (1966 - 1971).
d) Dr. KH. Idham
Chalid, Ketua MPR-DPR RI (1971 - 1978).
Di samping banyak tokoh NU menempati posisi strategis dalam Kabinet,
Lembaga Tinggi Negara, banyak juga yang diangkat Duta Besar RI di luar Negeri.
5) 1973 –
1984
Sejak Tahun 1973, Pemerintah Orde Baru ‘menerbitkan’ partai-partai peserta
pemilu. Dari 10 peserta pemilu 1971, disederhanakan menjadi dua partai:
partai-partai yang berazas nasionalis dileburkanke dalam partai Demokrasi
Indonesia (PDI), sedangkan partai-partai yang berazas islami dileburkan ke
dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai NU tidak diakui lagi, dan
diharuskan melebur kedalam PPP. Sedangkan Golongan Karya (Golkar), tidak diakui
sebagai partai lagi,tapi diperbolhkan sebagai salah satu peserta pemilu.
Pada masa ini tokoh NU ‘dibersihkan’ dari pemerintahan. Bahkan Menteri
Agama yang sejak awal langganan tetap NU pun diberikan orang lain. Para tokoh
NU juga dikikis habis dari berbagai jabatan di pemerintahan. Hanya dua orang
yang diberi posisi penting, yaitu KH. Masjkur sebagai Wakil Ketua MPR-DPR RI
(1977 - 1983) dan KH. Idham Chalid sebagai Dewan Pertimbangan Agung (1977 -
1982).
Dalam kancah politik maupun pemerintahan, para tokoh NU benar-benar
dipinggirkano oleh pemerintah Orde Baru yang didukung penuh oleh TNI dan POLRI.
Dalam dua kali pemilu (1977 dan 1982) banyak tokoh NU masuk penjara dengan
aneka macam tuduhan.Sebagai dampak langsung dari sifat represif pemerintah kala
itu, banayak Cabang NU besrta Badan Otonmnya di daerah tidak aktif. Pengurusnya
ketakutan.
6) 1984 –
1998
Lewat Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984, NU memasuki babak baru.
Setelah malang melintang dalam dunia politik praktis selama 32 tahun, akhirnya
NU kembali ke jati dirinya seperti saat didirikan pada tahun 1926. Preristiwa
itu dikenal dengan istilah kembali ke Khittah 1962. NU telah lepas dari politik
praktis dan kembali ke jam’iyah diniyah (organisasi keagamaan) yang mengurusi
dakwah dan keagamaan.
Dalam dua kali pemilu kemudian (1987 dan 1992), banyak tokoh NU yang
menjadi penggembosan PPP. Selain karena paktor pribadi, aksi itu terjadi karena
ekses dari campur tangan pemerintah Orde Baru pada partai politik yang begitu
mendalam. Amat adanya unsur adu domba antara kelompk NU dan MI dalam kelom PPP.
Akibat dari unsure besar-besaran itu, PPP benar-benar gembos. Perolehan
suaranya merosot tajam.
Sementara itu NU mulai sibuk kembali membenahi sekolah-sekolah dan rumah
sakit-rumah sakitnya yang telah lama terabaikan. Pengajian-pengajian mulai
masuk ke unit-unit pemerintahan.Hubungan ke pemerintah yang telah sekian lama
terputus dirajut kembali sedikit demi sedikit. Satui persatu Cabang dan ranting
yang mati dihidupkan kembali.Di sisi lain, nama NU semakin dikenal di luar
Negeri. Beberapa kali Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid mendapat
penghargaan. Bahkan untuk pertama kalinya Ketua Umun PBNU terpilih sebagai
salah satu presiden Agama-agama di dunia(WRCP).
7) 1998 –
2004
Ketika terjadi euphoria pasca jatuhnya Presiden Soeharto dan terbukanya
Orde Reformasi dalam dunia politik (1998), NU kembali masuk kembali ke dalam
kancah politik praktis. PBNU memfasilitasi berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB) pada 23 Juli 1998. Mau tak mau partai baru ini menyeret NU ke dalam
permainan politik lagi.
Untuk pertama kalinya, Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), terpilih
sebagai Presiden Replubik Indonesia keempat, 1999. Mau tak mau naiknya Gus Dur
sebagai presiden membawa dampak psikologis bagi NU. Euforia kemenangan masuk ke
berbagai lini. Banyak tokoh NU yang semula terpinggirkan kembali masuk ke
pemerintahan. Namun ketika Gus Dur dijatuhkan lewat impeachment DPR pada 2003,
dampaknya juga sangat dirasakan oleh NU dan PKB. Posisi NU terasa goyang
dimana-mana. Meski Wakil Presiden dijabat oleh Hamzah Haz yang juga orang NU,
namun tetap tidak banyak memberikan perubahan. Posisi itu semakin diperburuk
dengan gonjang ganjing dalam tubuh PKB. Bahkan partai itu terbelah menjadi dua.
8) 2004 –
sekarang
Lewat muktamarnya yang ke-31 di Donohudon, Solo pada 2004, Nu meneguhkan
kembali jati dirinya untuk keluar dari politik praktis dan kembali ke jalan
Khittah sebagaimana yang pernah diputuskan dalam muktamar ke-27 di Situbondo
pada 1984. Perjuangan Nu lebih difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan,
ekonomi dan dakwah. Sementara dalam politik praktis NU menjaga jarak yang sama
terhadap semua partai politik.
Pada masa ini nama NU semakin dikenal di luar negeri. Bahkan telah menbuka
Pengurus Cabang Istimewa (PCI) di beberapa negara. Tak kurang dari PCI Amerika,
Australia, Inggris, Jepang, Saudi Arabia, Sudan, Mesir dan lain sebagainya
telah didirikan. Sedikit demi sedikit para mahasiswa NU dikirim untuk belajar
ke luar negeri, dengan biaya ataupun fasilitas dari PBNU.
Pada tahun 2004 NU memprakarsai berdirinya International Conference of
Islamic Scholars (ICIS, Konferensi Internasional Cendekiawan Islam) di Jakarta.
ICIS adalah sebuah organisasi Islam yang beranggotakan ulama’-ulama’ moderat
sedunia. Lewat ICIS itu pula nama Nahdlatul Ulama’ semakin dikenal di pentas
dunia sebagai pelopor gerakan Islam moderat, hingga sekarang.
3.
Fungsi
Dan Tujuan NU
Berdasarkan hasil
keputusan Muktamar Donohudan, Boyolali (2004) disebutkan:
Visi NU adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunah wal Jama`ah dan menurut salah satu dari Madzhab Empat untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat.
Visi NU adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunah wal Jama`ah dan menurut salah satu dari Madzhab Empat untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat.
Misi NU adalah dengan
melaksanakan usaha-usaha sebagai berikut:
1.
Di bidang agama, menupayakan
terlaksananya ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunah wal Jama`ah dan menurut
salah satu dari Madzhab Empat dalam masyarakat dengan melaksanakan dakwah
Islamiyah dan amar ma`ruf nahi munkar
2.
Di bidang pendidikan, pengajaran dan
kebudayaan, mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
serta pengembangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam untuk membuna
umat agar menjadi muslim yang bertaqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas dan
terampil, serta berguna bagi agama, bangsa dan negara.
3.
Di bidang sosial, mengupayakan
tertwujudnya kesejahteraan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia.
4.
Di bidang ekonomi, mengupayakan
terwujudnya pembangunan ekonomi untuk pemerataan kesempatan berusaha dan
menikmati hasil-hasil pembangunan, dengan mengutamakan tumbuh dan berkembangnya
ekonomi kerakyatan.
5.
Mengembangkan usaha-usaha lain yang
bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya Khairu Ummah.
Sesuia muqoddimah khittah NU alenia ke-2 maka tujuan didirikan NU adalah untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam yang berhaluan ahlussunah wal jama`ah serta menganut salah satu madzhab empat; Imam Abu Hanifah an-Nu`man, Imam Malik Bin Anas, Imam Muhammad Bin Idris As-syafi`I dan Imam Ahmad bin Hanbal, guna mempersatukan langkah para ulama dan pengikutnya dalam melakukan kegiatan yang bertujuan menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, ketinggian harkat dan martabat manusia. Berdasarkan pada mukoddimah khittah NU pada alenia ke-3 maka tujuan NU adalah Membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat yang bertaqwa kepada Alloh SWT, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tenteram, adil dan sejahtera.
Apabila butir ketujuh khittah NU tentang fungsi organisasi dan kepemimpinan ulama dalam NU maka fungsi dari NU sebagai alat untuk melakukan koordinasi bagi tercapainya tujuan yang ditentukan, baik tujuan yang bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan. Karena pada dasarnya Nu adalah jam`iyah diniyah yang membawakan paham keagamaan, maka ulama sebagai mata rantai pembawa fatwa keagamaan Islam ahlussunah wal jama`ah, selalu ditempatkan sebagai pengelola, pengendali, pengawas, dan pembimbing utama jalannya organisasi
Posisi NU dalam
pelkasanaannya adalah:
a. Dalam Kehidupan
BerbangsaBerdasarkan pada alenia 1,2,3, dan 4 pada butir ke 8 kittah NU yang
menjelaskan tentang posisi NU dalam kehidupan berbangsa, maka posisi NU dalam
kehidupan berbangsa adalah sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjadi
bagian tak terpisahkan bagi keseluruhan bangsa Indonesia, NU senantiasa
menyatukan diri dengan perjuangan bangsa Indonesia. NU secara sadar mengambil
posisi yang aktif dalam proses perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan
serta ikut aktif dalam penyusunan UUD `45 dan perumusan dan penyusunan
pancasila sebagai dasar Negara
Keberadaan NU yang senantiasa menyatukan
diri dengan perjuangan bangsa, menempatkan NU dan segenap warganya untuk selalu
aktif mengambil bagian dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan
makmur yang diridhoi Alloh SWT. Karenanya setiap warga NU harus menjadi warga
negara yang senantiasa menjunjung tinggi pancasila dan UUD `45. Sebagai
organisasi keagamaan, NU merupakan bagian yang tak terpisahkan dari umat Islam
Indonesia yang senantiasa berusaha memegang teguh prinsip persaudaraan
(al-Ukhuwah), toleransi (at-Tasamuh), kebersamaan dan hidup berdampingan baik
dengan sesama umat islam maupun dengan sesama warga negara yang mempunyai
keyakinan atau agama lain untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita persatuan dan
kesatuan bangsa yang kokoh dan dinamis Sebagai organisasi yang mempunyai fungsi
pendidikan NU berusaha secara sadar untuk menciptakan warga negara yang
menyadari akan hak dan kewajibannya terhadap bangsa dan Negara
b. NU dalam kehidupan
politik Berdasarkan pada alenia 5 dan 6 pada butir ke 8 kittah NU yang
menjelaskan tentang posisi NU dalam kehidupan berbangsa, maka NU sebagai
jam`iyah secara organisasi tidak terikat dengan organisasi politik dan
organisasi kemasyarakatan manapun juga
c. Setiap warga NU
adalah warga negara yang mempunyai hak-hak politik yang dilindungi oleh
Undang-Undang. Di dalam hal politik warga NU menggunakan hak politiknya harus
melakukan secara bertanggung jawab sehingga dengan demikian dapat ditumbuhkan
sikap hidup yang demokratis, konstitusional, taat hukum dan mampu mengembangkan
mekanisme musyawarah dan mufakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi
bersama

Komentar
Posting Komentar